Bagaimana Membagi Waris Menurut KUH Perdata?

Hubungan persaudaraan bisa berantakan jika masalah pembagian harta warisan seperti rumah atau tanah tidak dilakukan dengan adil. Untuk  Bagaimana Membagi Waris Menurut KUH Perdata?menghindari masalah, sebaiknya pembagian warisan diselesaikan dengan adil. Salah satu caranya adalah menggunakan Hukum Waris menurut Undang-Undang (KUH Perdata).

Banyak permasalahan yang terjadi seputar perebutan warisan, seperti masing-masing ahli waris merasa tidak menerima harta waris dengan adil atau ada ketidaksepakatan antara masing-masing ahli waris tentang hukum yang akan mereka gunakan dalam membagi harta warisan.

Keluarga Bambang (bukan nama sebenarnya) di Solo, misalnya. Mereka mempunyai permasalahan seputar warisan sejak 7 tahun yang lalu. Awalnya keluarga ini tidak mau membawa masalah ini ke meja hijau tapi sayangnya, ada beberapa ahli waris yang beritikad buruk. Karena itu keluarga Bambang akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum. Hingga awal tahun 2006, kasusnya masih dalam tingkat banding di Pengadilan Tinggi setempat dan belum ada putusan.

Ilustrasi ini hanya satu dari banyak masalah harta waris yang masuk ke pengadilan. Mengingat banyaknya kasus semacam ini, ada baiknya kita mengetahui bagaimana sebenarnya permasalahan ini diselesaikan dengan Hukum Waris menurut Undang-Undang (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Berhak Mendapatkan Warisan
Ada dua jalur untuk mendapatkan warisan secara adil, yaitu melalui pewarisan absentantio dan pewarisan testamentair. Pewarisan absentantio merupakan warisan yang didapatkan didapatkan berdasarkan Undang-undang. Dalam hal ini sanak keluarga pewaris (almarhum yang meninggalkan warisan) adalah pihak yang berhak menerima warisan.

Mereka yang berhak menerima dibagi menjadi empat golongan, yaitu anak, istri atau suami, adik atau kakak, dan kakek atau nenek. Pada dasarnya, keempatnya adalah saudara terdekat dari pewaris (Lihat Boks 4 golongan pembagian waris).

Sedangkan pewarisan secara testamentair/wasiat merupakan penunjukan ahli waris berdasarkan surat wasiat. Dalam jalur ini, pemberi waris akan membuat surat yang berisi pernyataan tentang apa yang akan dikehendakinya setelah pemberi waris meninggal nanti. Ini semua termasuk persentase berapa harta yang akan diterima oleh setiap ahli waris.

Tidak Berhak Menerimanya
Meskipun seseorang sebenarnya berhak mendapatkan warisan baik secara absentantio atau testamentair tetapi di dalam KUH Perdata telah ditentukan beberapa hal yang menyebabkan seorang ahli waris dianggap tidak patut menerima warisan.

Kategori pertama adalah orang yang dengan putusan hakim telah telah dinyatakan bersalah dan dihukum karena membunuh atau telah mencoba membunuh pewaris. Kedua adalah orang yang menggelapkan, memusnahkan, dan memalsukan surat wasiat atau dengan memakai kekerasan telah menghalang-halangi pewaris untuk membuat surat wasiat menurut kehendaknya sendiri. Ketiga adalah orang yang karena putusan hakim telah terbukti memfitnah orang yang meninggal dunia dan berbuat kejahatan sehingga diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. Dan keempat, orang yang telah menggelapkan, merusak, atau memalsukan surat wasiat dari pewaris.

Dengan dianggap tidak patut oleh Undang-Undang bila warisan sudah diterimanya maka ahli waris terkait wajib mengembalikan seluruh hasil dan pendapatan yang telah dinikmatinya sejak ia menerima warisan.

Pengurusan Harta Warisan
Masalah warisan biasanya mulai timbul pada saat pembagian dan pengurusan harta warisan. Sebagai contoh, ada ahli waris yang tidak berbesar hati untuk menerima bagian yang seharusnya diterima atau dengan kata lain ingin mendapatkan bagian yang lebih. Guna menghindari hal tersebut, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh Anda yang kebetulan akan mengurus harta warisan, khususnya untuk harta warisan berupa benda tidak bergerak (tanah dan bangunan).

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat Surat Keterangan Kematian di Kelurahan/Kecamatan setempat. Setelah itu membuat Surat Keterangan Waris di Pengadilan Negeri setempat atau Fatwa Waris di Pengadilan Agama setempat, atau berdasarkan Peraturan Daerah masing-masing. Dalam surat/fatwa tersebut akan dinyatakan secara sah dan resmi siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan warisan dari pewaris.

Apabila di antara para ahli waris disepakati bersama adanya pembagian warisan, maka kesepakatan tersebut wajib dibuat dihadapan Notaris. Jika salah satu pembagian yang disepakati adalah pembagian tanah maka Anda harus melakukan pendaftaran di Kantor Pertanahan setempat dengan melampirkan Surat Kematian, Surat Keterangan Waris atau Fatwa Waris, dan surat Wasiat atau Akta Pembagian Waris bila ada.

Satu bidang tanah bisa diwariskan kepada lebih dari satu pewaris. Bila demikian maka pendaftaran dapat dilakukan atas nama seluruh ahli waris (lebih dari satu nama). Nah, dengan pembagian waris yang dilakukan berdasarkan Undang-Undang maka diharapkan bisa meminimalkan adanya gugatan dari salah satu ahli waris yang merasa tidak adil dalam pembagiannya.

Empat Golongan yang Berhak Menerima Warisan
A. GOLONGAN I.
Dalam golongan ini, suami atau istri dan atau anak keturunan pewaris yang berhak menerima warisan. Dalam bagan di atas yang mendapatkan warisan adalah istri/suami dan ketiga anaknya. Masing-masing mendapat ¼ bagian.

Ayah
Ibu
Pewaris
Saudara
Saudara

B. GOLONGAN II
Golongan ini adalah mereka yang mendapatkan warisan bila pewaris belum mempunyai suami atau istri, dan anak. Dengan demikian yang berhak adalah kedua orangtua, saudara, dan atau keturunan saudara pewaris.

Dalam contoh bagan di atas yang mendapat warisan adalah ayah, ibu, dan kedua saudara kandung pewaris. Masing-masing mendapat ¼ bagian. Pada prinsipnya bagian orangtua tidak boleh kurang dari ¼ bagian

C. GOLONGAN III
kakek
nenek
kakek
nenek

Dalam golongan ini pewaris tidak mempunyai saudara kandung sehingga yang mendapatkan waris adalah keluarga dalam garis lurus ke atas, baik dari garis ibu maupun ayah.

Contoh bagan di atas yang mendapat warisan adalah kakek atau nenek baik dari ayah dan ibu. Pembagiannya dipecah menjadi ½ bagian untuk garis ayah dan ½ bagian untuk garis ibu.

D. GOLONGAN IV
Pada golongan ini yang berhak menerima warisan adalah keluarga sedarah dalam garis atas yang masih hidup. Mereka ini mendapat ½ bagian. Sedangkan ahli waris dalam garis yang lain dan derajatnya paling dekat dengan pewaris mendapatkan ½ bagian sisanya.

TIP
Sebelum melakukan pembagian warisan, ahli waris harus bertanggungjawab terlebih dahulu kepada hutang-piutang yang ditinggalkan oleh pewaris semasa hidupnya.

Penulis: Cyntia P. Dewantoro, SH
Pengacara Hukum Properti

Sumber: Tabloid Rumah

Apakah kata di bawah ini yang anda cari:

contoh surat pembagian warisan (235), contoh surat pembagian warisan tanah (124), contoh surat warisan tanah (124), Surat pembagian warisan (86), surat pernyataan pembagian warisan (77), contoh surat pernyataan pembagian warisan (73), contoh surat pembagian tanah (69), contoh surat pembagian harta warisan (65), surat pernyataan pembagian waris (57), contoh akta pembagian waris (55)

Leave a Reply

  1. saya adalah cucu yg ditinggalkan warisan di tn abang.
    orang tua saya masih ada.mau menjual warisan tersebut susah banget.dilempar kesana kemari gak tau arah tujuannya.bagaimana caranya ya.

  2. Sudah bersertipikat belum?
    yang harus anda lakukan adalah membuat keterangan warisan dan surat pernyataan pemebagian warisan setelah menjadi turun waris menjadi atas nama bapak kamu, baru deh di jual.

  3. asalamualaikum…saya adalah anak pertama dari istri ayah yg pertama, sedangkan Ayah saya mempunyai 3 istri,
    Istri pertama mempunyai Anak 1 yaitu saya sendiri..,
    Istri ke dua mempunyai anak 3 yg sekarang telah di rawat oleh ibu tiri nya yg sekarang.
    Istri ke tiga mempunyai anak 2(kembar) yg sekarang telah merawat anak 5, kecuali saya sendiri,
    tpi si ibu tiri yg sekarang tidak mau memberi hak waris ke pada saya….., beserta barang hidup sprti mobil dan motor, si ibu tiri hanya berkata kalo semua ini adalah hak waris untuk kedua putri nya, sedangkan saya dan 3 adik tiri saya tidak di beri 1 persen pun,
    Ayah saya telah meninggalkan rumah mewah yg mempunya 12 kamar, mempunyai toko solar dan oli…serta sering menjadi sopir bus Damri, dan bus lain nya.
    bagaimana cara untuk mengatasi ya.. atas info nya saya ucapkan banyk terimakasih…, Wasallam.

  4. Nenek saya telah meninggal dan mempunyai 4 orang anak yaitu 3 anak laki-laki masih hidup dan 1 anak perempuan (sudah meninggal memiliki 4 orang anak), mewarisi sebidang tanah dan rumah yang akan mau dijual.
    Kemudian, atas rumah tersebut ke3 anak laki-laki sudah sepakat dan setuju utk menjual nya dgn hrg yang sudah deal dgn pembeli (pembelinya adalah saya). Namun anak-anak dari 1 perempuan yg meninggal tsb (cucu dari nenek) tidak setuju krn mungkin merasa tidak sesuai dgn hrg atas rumah tsb. kemudian ahli waris laki2 yg bertiga sudah sering mengajak musyawarah anak-anak yg tidak setuju tsb namun mereka mengabaikannya sehingga sampai skrg masih tertunda.

    Pertanyaan saya :
    1, Bisakah, SK ahli waris dibuat tanpa memasukkan nama ahli waris yang meninggal ?
    2. Jika2 anak2 tsb setuju, bagaimana pembagian dan harta ahli warisan tsb (asumsi penjualan rumah 100 jt)?

    Mohon saran dan masukannya.
    Terima kasih.
    Salam,
    Ari

  5. Nenek saya telah meninggal dan mempunyai 4 orang anak yaitu 3 anak laki-laki masih hidup dan 1 anak perempuan (sudah meninggal memiliki 4 orang anak), mewarisi sebidang tanah dan rumah yang akan mau dijual.
    Kemudian, atas rumah tersebut ke3 anak laki-laki sudah sepakat dan setuju utk menjual nya dgn hrg yang sudah deal dgn pembeli (pembelinya adalah saya). Namun anak-anak dari 1 perempuan yg meninggal tsb (cucu dari nenek) tidak setuju krn mungkin merasa tidak sesuai dgn hrg atas rumah tsb. kemudian ahli waris laki2 yg bertiga sudah sering mengajak musyawarah anak-anak yg tidak setuju tsb namun mereka mengabaikannya sehingga sampai skrg masih tertunda.
    Pertanyaan saya :
    1, Bisakah, SK ahli waris dibuat tanpa memasukkan nama ahli waris yang meninggal ?
    2. Jika2 anak2 tsb setuju, bagaimana pembagian dan harta ahli warisan tsb (asumsi penjualan rumah 100 jt)?
    Mohon saran dan masukannya.
    Terima kasih.
    Salam,
    Ari